SURAT PENDEK

Surat pendek ini sengaja kutuliskan untukmu sebagai bahan refleksi. Pun agar kamu bisa memaafkan segala kesalahan yang pernah dibuat oleh raga ini. Kita ini adalah manusia, cukup wajar rasanya jika satu-dua kali salah pernah tercipta. Kau tentu tahu justru inilah ladang kita untuk belajar. Sekaligus pelecut supaya kita tegar menatap masa depan dengan gagah berani.
Kita pernah berbuat salah. Kita pernah menyakiti mereka yang menyayangi
kita, menutup pintu untuk kasih tulus mereka. Kita pernah menyia-nyiakan
kesempatan yang Tuhan berikan. Kita bahkan pernah berbohong karena tak tahu apa
lagi yang bisa dilakukan. Sampai sekarang, perbuatan itu masih
meninggalkan rasa pahit di lidah dan rasa bersalah. Meski orang lain sudah
memaafkan, diri ini masih berusaha mengikhlaskan.
Maukah kau belajar lebih keras untuk memaafkan kesalahan lampau yang telah
kau perbuat? Agar hati ini kembali memiliki ruang lapang dan siap untuk
berjuang.
Banyak kealpaan yang
pernah kau perbuat sebagai pribadi yang tidak sempurna. Baik yang sengaja,
maupun yang tak disengaja.
Entah
sudah berapa kesalahan yang pernah kau cipta sejak pertama kali kau menjejak
dunia. Ya, bentuk kesalahan yang sengaja maupun tak sengaja kau lakukan pasti
ada banyak jumlahnya. Aku paham bahwa sebenar-benarnya manusia pasti wajar bila
kita pernah melakukan salah. Namun, maukah kau sekali ini merenungi kealpaanmu
secara lebih mendalam? Kesalahan yang mungkin tanpa disadari berhasil menggurat
luka di hati sendiri maupun hati milik manusia lainnya.
Sudah berapa usiamu ketika membaca surat ini? Ah,
aku tahu, pasti ketika tengah menginjak kepala dua. Tepat sekali rasanya surat
ini kau baca sekarang. Usiamu saat ini adalah masa dimana kau sedang
gemar-gemarnya bertekuk lutut pada ego. Masih berjiwa muda dan haus tantangan
kau jadikan alasan sehingga seringnya merasa paling benar dan enggan membuka
telinga pada perkataan orang tua. Apakah kau merasa apa yang kau lakukan itu
adalah tindakan yang benar? Apakah kau pernah memposisikan diri sebagai
orangtua yang perkataannya sering kau tentang pun enggan kau dengar?
Seharusnya kau paham bahwa perbuatanmu itu sama
saja menabur benih luka di hati milik ayah dan ibumu.
Gurat
kecewa pernah sengaja kau torehkan dalam hati mereka yang tulus menyayangi. Kau
lebih percaya pada orang yang salah, mengabaikan kata nurani
Tak hanya menggurat kecewa pada hati milik manusia
lain, kau pun kerap merajahkan luka pada hati kecil sendiri. Ada banyak manusia
yang pernah hadir di kehidupanmu. Ketika mereka mengetuk masuk dan hati kecilmu
tak mengizinkan, kau berkeras untuk membiarkan mereka singgah. Membuatmu terus
menerus ditebas rasa sakit karena menjalin cinta dengan orang yang salah.
Ah, jika sudah begini kau hanya bisa terus menerus
meratap, menyalahkan keadaan, bahkan jika mungkin kau akan menyalahkan Tuhan.
Sungguh konyol rasanya ketika kau sibuk mencari kambing hitam atas sakit yang
sengaja kau ciptakan.
Kau
pun tak mencoba berpikir untuk diri sendiri. Dalam pengambilan keputusan,
kau memilih ikut teman. Bahkan ketika hati kecilmu berseberangan dan
berteriak ‘Tidak!’ dengan lantang
Gurat luka yang kau torehkan pada diri sendiri tak
hanya karena berkeras untuk menjalin cinta dengan orang yang tak tepat. Namun,
kau kembali meragukan nurani dalam setiap pengambilan keputusan besar. Bisikan
hati kecilmu tak pernah betul-betul kau dengar hingga seringnya kau terbelit
keraguan. Pada akhirnya, kau lebih gemar ikut-ikutan teman karena hal itu
dianggap paling nyaman.
Tak hanya satu dua kali kau salah langkah hanya
karena mengikuti perkataan orang. Kau bahkan pernah jatuh begitu dalam hanya
karena lebih memberatkan bisikan teman daripada nurani yang sudah berseru
dengan sangat lantang. Seharusnya, tak ada yang boleh lebih kau percayai selain
diri sendiri. Mengikuti kata teman tak berarti selalu aman. Justru hati
kecilmulah yang akan selalu melontarkan kejujuran dan bisa dijadikan pegangan.
Atas
segala salah yang pernah tercipta, ku ucapkan terimakasih padamu. Dari sanalah
aku banyak belajar bahwa aku masih jauh dari istimewa.
Sungguh, aku tak bermaksud menyudutkanmu atau bahkan
memadamkan api semangat yang sekarang sedang berpendar di dalam jiwamu. Justru
lewat surat ini aku tak hanya mengungkit salah yang kau lakukan, aku juga ingin
berterimakasih padamu atas salah yang pernah tercipta. Kesalahan yang pernah
kau tebar merupakan ladang pembelajaran. Di sanalah aku dan kamu tumbuh dewasa
bersama.
Menyadarkan kembali bahwa kita bukan manusia
sempurna sehingga harus sering memperbaiki diri. Penyesalan yang terlambat
hadir selalu sukses menjalankan perannya sebagai cambuk pengingat
sekaligus pengendali. Sungguh, tak perlu lagi menyesali apa yang pernah
terjadi. Yang sekarang perlu kita lakukan hanyalah memaafkan diri supaya bisa
menghadapi dunia dengan lebih berani.
Rute yang
akan kita lalui masih panjang, kini saatnya kita berhenti menyesali kesalahan.
Berjanjilah kita akan bangkit berjuang!
Tak guna rasanya jika melongok kembali salah yang
pernah diperbuat diri. Sekarang yang harus kita lakukan hanyalah berjuang
hingga habis daya demi masa depan. Kita punya waktu untuk memperbaiki diri
sehingga bisa meminimalkan salah yang terjadi. Bersediakah kau memaafkan
kesalahan diri yang telah lalu dan berjanji untuk bangkit berjuang?
Karena aku benar-benar menaruh harap padamu, semoga
diriku ini siap menapaki masa depan dengan hati lapang dan tidak ada beban dari
masa lalu yang turut terbawa serta.


Komentar
Posting Komentar