Selamat Pergi, Selamat Tinggal (dihati yang lain)
Ada sebuah janji yang
tak pernah lagi bisa ditepati, karena kita memilih pergi. Ada satu yang
memecahkan diri, berpisah haluan, mengucapkan selamat tinggal karena sudah
menemukan kebahagiaan yang lain. Dan satunya lagi yang tersakiti, terlalu
mencintai, tak terima dengan realita yang menyuguhkan luka lalu memilih untuk
mengasingkan diri.
Aku tahu bahwa
perpisahan selalu menyakitkan. Tapi tidak ada yang bisa mencegah kedatangannya,
tidak ada yang tahu kapan ia tiba dan tidak ada yang menginginkannya. Jika saja
bisa, aku mau tetap tinggal. Jika saja bisa, aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa.
Jika saja bisa, aku ingin terus bersama. Jika saja bisa, aku tidak mau ada
sebuah perpisahan. Karena perpisahan itu menjauhkan. Semanis apapun, sebaik
apapun bentuknya, perpisahan hanya akan mengasingkan kita. Lalu untuk apa
bertemu, jika akhirnya berpisah?
Aku masih mencintaimu.
Masih sampai detik dimana kamu mengecup keningku, masih sampai detik dimana
kamu sibuk dengan duniamu, masih sampai detik dimana kamu berhenti memusatkan
hatimu untukku, masih sampai detik dimana kamu menciptakan segitiga baru antara
aku, dia dan kamu, masih sampai detik dimana kamu menghilangkan ritual-ritual
manis kita, masih sampai detik dimana kakimu pelan-pelan mulai menjauh, masih
sampai detik dimana kamu benar-benar berubah dan memilih pergi. Dan masih
sampai detik ini, aku mencintaimu. Karena itulah hatiku begitu pedih dengan
perpisahan yang tak pernah ingin kutuliskan skenarionya.
Waktu tidak pernah bisa
diputar kembali. Jika kamu memilih pergi, maka pergilah dan jangan kembali.
Untuk berdamai dengan kenyataan dan mengalah dengan penyangkalan, sungguh aku
perlu waktu. Tapi setidaknya aku telah berani membiarkanmu pergi, merelakan
agar hati tak dibuat berkeping lagi. Tentang hal yang hak patennya sudah tak
bisa diubah, aku hanya bisa menerima bahwa kamu sudah tak lagi cinta. Mungkin
dengan perpisahan ini, ada pertemuan lain yang sedang disiapkan. Tidak apa-apa,
karena segalanya sudah dikendalikan oleh yang lebih Ahli.
“Its okay to walk out
of someone’s life if you don’t feel like you belong in it anymore”
Berbahagialah. Ini bukan
ritual kata yang kuucapkan sebagai salam perpisahan agar terlihat sempurna.
Tapi sungguh, aku ingin kamu bahagia. Karena pernah aku melihatmu tersenyum
manis, tertawa lepas, saat kita jatuh cinta dan seperti surga rasanya. Dan jika
aku tak bisa lagi membuatmu seperti itu, berbahagialah dengan yang bukan aku.
Jatuh cintalah lagi, karena hatimu butuh. Jika kamu telah menemukan orang yang
tepat, aku berdoa agar tidak ada sebuah perpisahan. Karena sungguh, itu
menyakitkan.
Aku pergi, aku akan
segera menyembuhkan hati, aku akan menemukan bahagiaku sendiri.
Selamat pergi, Selamat tinggal (di hati
yang lain)



Komentar
Posting Komentar